Tuesday, November 27, 2012

Jujur Itu Kunci Kebaikan Menuju Kebahagiaan.


Dulu, disaat waktu kita kecil, orang tua selalu mengajarkan kita agar selalu jujur. Memang itu suatu pesan atau kata-kata yang sederhana untuk kita, tetapi itu merupakan kalimat yang memiliki makna yang sangat luar biasa. Sikap jujur merupakan kunci untuk mendapatkan kebahagiaan. Dan tanpa adanya sikap jujur, seberapa banyak kebahagian yang kita miliki akan sia-sia. Seperti contoh cerita seorang tokoh ulama besar (Imam Syafi’i) yang begitu terkenal dalam kejujurannya.

Ceritanya begini......
Pada suatu hari Ia sedang beristirahat dipinggir sungai, karna lelahnya Ia mengembara untuk mencari ilmu. Selain itu Ia bukan hanya kelelahan, tetapi Ia juga sangat lapar dari sejak pagi Ia tidak memakan apapun. Pada waktu itu Ia melihat buah apel yang hanyut disungai, dan Ia segera mengambil buah apel itu lalu memakannya sampai habis.

Setelah buah apel tersebut dimakan sampai habis, Ia sadar dan merasa berdosa karna telah memakan makanan yang buka haknya. Didalam benaknya Ia bertanya bahwa buah apel itu pasti ada yang memilikinya, serta Ia merasa harus untuk meminta izin kepada pemiliknya sebelum memakan buah apel tersebut. Ia memang sangat berhati-hati dalam barang yang halal haram serta barang subhat. Bagai manapun, Ia merasa barang yang Ia makan tadi akan mempengaruhi perilakunya. Dan Ia sangat menyesal karna telah memakan buah apel itu, serta Ia pergi untuk mencari tahu bahwa siapa pemilik buah apel tersebut, untuk meminta izin dan minta keikhlasan kepada pemilik buah apel itu karna telah Ia makan tanpa seizin pemiliknya. Dengan tanpa pikir panjang Ia pun bersegera untuk mencari tahu tentang pohon buah apel tersebut dengan menyusuri sepanjang pinggir sungai.

Setelah Ia menemukan pohon yang Ia perkirakan bahwa buah apel yang Ia makan itu dari pohon yang Ia temukan dipinggir sungai, Ia begitu gembira dan senang karna Ia merasa pasti bisa untuk menemukan sang pemiliknya dengan menanyakan kepada penduduk sekitar. Begitu sang pemilik buah apel tersebut Ia temukan, Ia pun bersegra mendatangi pemilik apel itu dengan setulus untuk meminta izin dan keikhlasannya tentang buah apel yang Ia makan.

Pemilik buah apel lalu mau mengikhlaskan tentang apel yang Ia makan dengan sebuah syarat, bahwa bila Ia ingin diberikan keikhlasan tentang buah apel yang Ia makan tanpa seizin pemiliknya, maka Ia harus menuruti permintaan sang pemilik bauh apel tersebut, untuk menjadikannya pembantu pribadinya tanpa bayaran. Ia pun menyutujui syarat sang pemilik buah apel itu.

Setelah itu Ia pun melakukan tugasnya dengan sebuha keikhlasan, kejujuran, tulus, rendah hati, taat dalam ibadah serta Ia pun sangat pintar. Sang pemilik buah pun sangat terkesan dengan sikap dan prilakunya selama Ia menjalankan tugasnya.

Begitu Ia merasa sudah selesai dalam menjalani tugasnya selama bertahun-tahun, ia pun bertanya kepada sang pemilik buah apel tersebut bahwa Ia sudah melakukan segala tugas yang diberikan oleh pemilik apel.  Pertanyaannya pun langsung dijawab bahwa Ia bila ingin benar-benar diberi keikhlasan tentang buah apel yang pernah Ia makan, Ia harus menikahi putrinya yang tuli, buta, lumpuh, bisu, dan buruk rupa. Dengan kagetnya Ia menjawab dengan baik dan menundukan kepalanya. Sebenarnya putri yang dari pemilik buah apel itu bagitu indah, atau yang dimaksud tuli (telinganya tidak pernah mendengarkan suara-suara yang buruk terkecuali yang baik), buta (matanya tidak dipergunakan untuk melihat sesuatu yang maksiat), lumpuh (dikarnakan rajin beribadah), bisu (mulutnya tidak dipergunakan untuk membicarakan sesuatu yang tidak baik), dan buruk rupa (bahwa putrinya itu begitu sangat cantikdan tidak pernah memamerkan kepada orang lain).

Setelah Ia menikah dengan putri pemilik apel tersebut, sang pemilik apel kemudian menunjukan kamar putrinya yang sudah syah menjadi istri. Lalu Ia memberanikan diri  pergi kekamar tersebut dan masuk ke kamar istrinya yang ditunjukan olah sang pemilik apel. Ternyata didalam kamar tersebut ada wanita cantik dan tidak sesuai dengan apa yang diceritakan oleh sang pemilik buah apel itu. Ia merasa kaget dan keluar dari kamar serta langsung menghadap sang mertua, dan menceritakan tentang wanita yang Ia temui tadi serta beranya bahwa mertuanya salah atau keliru menunjukan kamar istrinya. Sang mertua pun menjawab dengan tegas serta tersenyum menjelaskan apa yang dimaksud sang mertua tuli, buta, lumpuh, bisu, dan buruk rupa. Mendengar jawaban dan penjelasan sang mertua maksud, Ia langsung berterimakasih kepada sang mertua serta bersujud dengan bersyukur atas karunia yang Allah SWT berikan dengan usahanya dalam mencari tahu sang pemilik apel dan menjalan syarat dengan baik dan ikhlas.

Begitulah cerita Imam syafi’i yang dikenal kejujurannya dan menjadi modal utama dalam menjalani kehidupannya. Kejujurannya merupakan segala suatu amal perbuatan yang baik. Oleh karna itu, kejujuran merupakan kunci dari suatu kehidupan untuk menuju suatu kebahagiaan,dan merupakan suatu perbuatan untuk meraih surga Allah SWT. Surga merupakan tempat kebahagiaan yang tak terkira. Didunia pun kebahagiaan yang bisa kita rasakan selama ini, baik secara materi maupun immaterial. Kenikmatan jasmani rohani pun pasti bisa kita rasakan dengan cara yang baik dan halal.

Begitulah sang Imam syafi’i, Ia telah mendapatkan ganjarannya karna kejujurannya. Tetapi yang pati, kalian harus ingat bahwa bila melakukan kejujuran jangan mengharapkan sesuatu seperti tadi istri cantik atau pun imbalan, melainkan melakukan dengan ikhlas dan merasa harus didalam hati kita.

Sekian dan terimakasih.........!

0 Comments:

Post a Comment

{Ayo tulis bila ada masukan serta pertanyaan di bawah ini }

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
PEMBERITAHUAN KEPADA SEMUA PENGUNJUNG, BAHWA BLOG INI TIDAK AKTIF (UPDATE) LAGI, DAN DIGANTIKAN KE : "{ http://information-attract.blogspot.com }"
Free Web Hosting